Sabtu, 16 April 2011

LET ME IN

Menonton  Let Me In

?, Boo, Kuntilanak Kesurupan dan Let Me In. Itulah judul-judul film yang terpampang di depan bioskop 21. Alhamdulillah ternyata kekhawatiranku akan berhentinya pasokan film dari luar terhapus sudah. Ini berarti kabar baik bagi para pecinta film Hollywood seperti aku. Aku juga bangga dan suka dengan film Indonesia tapi akhir-akhir ini aku sedikit ngeri <bukan takut> dengan tema-tema yang mengumbar keseksian semata. 

Terserahlah apa kata pemain dan produser  film tersebut untuk membantah tudingan miring terhadap karya mereka.  Yang jelas itu memang mata pencaharian orang-orang tersebut. Dan mau tidak mau semua itu memanglah sebuah kreasi yang patut dihargai meski patokan harga dari mana yang mesti kita ambil aku tidak tahu pasti. Maaf sekali lagi maaf atas pandangan sempitku. Boleh dibilang inilah titik jenuhku dengan semua ke-ngeresan itu.

Mengulas beberapa film yang tertera di atas. “?” sebuah film karya Hanung Bramantyo. Alur dan inti ceritanya bagus mengenai perbedaan yang terjadi di masyarakat. Ini tentang budaya, toleransi dan perbedaan. Sekali lagi dengan lantang saya berkata “ masih ada “?” yang tersisa di dalam otak saya. Hanya satu pertanyaan… judul yang tepat buat film ini apa ya… lumayan ada kuis berhadiahnya…..

Boo… asli aku nggak tahu dan nggak ada waktu buat nyari tahu tentang film ini. Maklum teman nontonku sms nihhhh..balas dulu ya…

Kuntilanak kesurupan… Wah ternyata bukan manusia saja yang bisa kesurupan tapi kuntilanak juga. Kalau manusia kesurupannya sama setan. Lha…kalau setan kesurupan apa ya… Jangan-jangan kesurupan manusia. Maklum jaman sekarang ini banyak yang ngaku manusia tapi ulahnya laksana setan bahkan lebih ngeri manusia. Betul tidak???

Let Me In. Aku sedikit binggung dengan film ini. Yang pasti aku tahu ini film horror karena sebagian besar warna posternya hitam dan ada gambar gadis serem banget lagi telungkup. “Kriiiiiiiikkkkkkk brrrrrrr brrrrr <ponselku bergetar> ada sms masuk. Oh dari temanku… isinya gini “jangan film indo mas, yang manca aja”. Terbukti sudah dari sms ini ternyata bukan aku saja yang jenuh dengan hasil karya anak negeri. Tapi aku terus mendukung  perfilman Indonesia.

Karena “?” dan Kuntilanak Kesurupan adalah film lokal maka pilihan sisa 50:50 antara Boo dan Let Me In.

Aku memilih Let Me In karena penasaran. Kalau Boo aku sedikit tidak tertarik, takutnya ntar hantunya Makibo lagi hehhehehehehehe < ada yang ingat kartun makibo… kuda kerdil yang bisa berlari kencang saat buang air besar>. 

Dua karcis terbeli. Saat yang dinanti tiba temanku datang dan menonton bersama.
Ada hal yang menarik tentang temanku,  sepanjang pemutaran film dia sering menutup mukanya. Terlebih ketika ada adegan bunuh-bunuhan. Hehehehe.. lucunya temanku ini. Ketika ku tanya kenapa, dia jawab “nggilani mas”…mau tahu artinya cari di kamus bahasa jawa. <Jangan tanya siapa temanku ini privasi tahu…maaf hehehhehehehhe>

Pertama-tama aku masih kabur apa maksud ceritanya namun setelah agak lama diikuti kisahnya semakin menarik. Simple but interesting. Yah ungkapan bahasa Inggris asal-asalanku ini memang pas menggambarkan film tadi. Inti ceritanya tentang persahabatan antara makhluk penghisap darah dan manusia. 

Yahhh kurang lebih twilight cuma bedanya yang manusia cowoknya. Dan ada satu lagi yang tidak sama, kalau twilight ceritanya percintaan anak remaja <abg menthok kira-kira 17-20 tahun> tapi di let me in masih bocah alias ababil <abg labil berkisar 12-15 tahun>…. 

Aku salut dengan hantu di film ini karena dia mengenal tata karma dalam bertamu. Kalau tidak dipersilahkan masuk oleh empunya rumah maka jika tetap masuk si hantu bakalan mati. Ku juluki hantunya dengan “kulo nuwun ghost”. Hantu aja ada tata kramanya maka jangan lupa sebagai manusia yang beradab dan berbudaya kita harus menjunjung tinggi norma kesopanan. Kalau mau masuk bilang kulo nuwun atau bilangnya Pak Dhe Tom Kruise “ Let Me In”..... mangga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar