Kamis, 05 Mei 2011

Tahu Tek Rasa Persahabatan

Nyummyy....Maknyusss

Tepat jam dua belas malam ketika aku mengenang hal ini. Dulu ketika masih berstatus magang di Balikpapan jam seperti ini adalah waktunya begadang bersama teman-teman asrama. Menyenangkan sekali kala itu. 

Kami adalah begadang lover. Hampir tiap hari tidur lewat tengah malam. Maklum pada saat itu kegiatan training hanya berfokus pada materi di kelas sehingga tidak banyak tenaga yang terkuras. Sehingga tak apa jika waktu tidur terbatas.

Menonton dvd, main game, main poker atau sekedar nonton tivi dan ngobrol ringan. Dan satu lagi yang tak terlewatkan. Santapan begadang “tahu tek di gang depan”.

Terpampang sebuah pemandangan seru tatkala si empunya warung mulai meramu “tahu tek”. Diambilnya pisau tajam diirisnya tahu menjadi kubus-kubus berwarna putih bersih. Di lain tempat ada sebuah penggorengan yang menanti datangnya tahu. Suara kemrengseng menandakan minyak sudah panas, seakan melambai-lambai wajan berkata “sini tahu berenanglah di dalamku”. Seketika itu tahu menyelam bermandikan minyak goreng yang membuat kulitnya berwarna kecoklatan. Sebelum semua berubah warna dengan sigap Bang Yadi mengangkatnya. Ditiriskan sebentar dalam wadah mirip jaring laba-laba. Berpindah ke petak lain terdapat cobek yang berpenghuni kacang, cabe, gula, garam dan bawang putih. Digerusnya kawanan bumbu tadi hingga melebur menjadi satu. Setelah semua jadi, lumeran petis berwarna hitam merasuki bumbu “tahu tek”. Hmmm…begitu sedap kurasa. Piring kosong berwarna bening telah berisi potongan-potongan tahu, lontong dan telur. Dengan segera Bang Yadi menuangkan adonan bumbu. Meleleh membanjiri setiap sudut tahu, lontong dan telur. Jika  dilihat dari samping seperti gunung putih dengan lelehan salju coklat di atasnya. Heheheehe…

Rasa tahu tek begitu melekat dalam imajinasiku. Lembut tahu dan lontongnya, pedas sambal petisnya, belum lagi taburan bawang goreng yang menambah gurih cita rasa. Oh..ya tak lupa krupuk putih andalan yang kriuk kriuk jika di makan.

Sajian semakin mantap saat dinikmati rame-rame. Serasa menciptakan Malioboro di Kota Minyak. Kita duduk lesehan di pinggir jalan, menikmati dinginnya angin laut dari kejauhan. Ditambah pula iringan music karya sendiri, kadang aku menceritakan lelucon berisi olokan dan ejekan. Sungguh terasa kekeluargaan dan kebersamaan. 

Entah kapan lagi bisa bernostalgia mengulangnya. Sekarang semua sudah berpencar menuju lokasi kerja masing-masing. Tapi akan selalu ku kenang “tahu tek rasa persahabatan”. Bagaimana denganmu kawan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar