Selasa, 10 Mei 2011

Berseteru dengan Khayalan Berdiskusi dengan Kenyataan

Mari Bermimpi

Gantungkanlah mimpimu setinggi langit” ucap seorang guru di dalam album sekolah yang dibagikan saat acara kelulusan. Mimpi adalah nyawa dari kehidupan. Manusia tanpa mimpi bagaikan turis yang bertamasya tanpa tujuan. 

Aku tergolong orang yang suka bermimpi. Banyak keinginan yang ingin kugapai. Mulai dari dalam buaian hingga umurku dua puluhan entah berapa mimpi yang sudah aku gantungkan. Entah kapan aku akan meraihnya. Yang kutahu hanya satu yang pasti. Aku harus berusaha dan berdoa.

Khayalan adalah sebuah fatamorgana yang sering menghampiriku. Indah memang tapi begitu menyakitkan ketika realita mendobrak  dinding manisnya. Aku sering berseteru dengan dirinya. Buaiannya bagai candu yang merayu untuk terus dinikmati. Pada akhirnya aku hanya terbang melintasi kebohongan. Aku malas untuk bergerak dan bertindak. Nyaman sekali rasanya ketika berada di dunia khayalan. Di sana kita bisa menjadi seperti yang kita mau. Tanpa batas dan aturan, cukup kembangkan imajinasi dan muncullah berjuta kenikmatan.

Aku harus bangun dan terjaga kembali. Ini bukan cara bijak menggapai mimpi. Mimpi harus diperjuangkan dalam dunia nyata bukan hanya imajinasi tanpa isi. Memang kenyataan tak selalu seperti yang kita inginkan. Tapi kita harus tetap berjuang. Bukankah kita masih bisa berdiskusi dengan kenyataan. 

Takdir adalah sesuatu yang sudah ditentukan. Kenyataan itulah yang harus kita hadapi. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan meski kadang bukan yang kita inginkan. Ada hikmah dan manfaat dalam setiap perjalanan. Tinggal bagaimana kita menyikapi. Semua tergantung pada kita mau atau tidak membuka tabir arti sesungguhnya hidup ini.

Hidup bukan untuk diratapi dan diisi dengan kesedihan hati. Ingat hidup hanya sekali. Buat semua terasa menyenangkan. Tinggalkan khayalan hadapi kenyataan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar